Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp HeadlineNesia.Com
+Gabung
JAKARTA – Kementerian Perdagangan RI (Kemendag) menyatakan bahwa kondisi perdagangan dan investasi global saat ini sedang tidak baik-baik saja. Indonesia diminta lebih bijak menyikapi tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari rantai pasok internasional hingga kebijakan proteksionis dari negara maju.
Dalam peluncuran Laporan Perdagangan dan Investasi Berkelanjutan 2025 di CSIS, Jakarta Pusat, Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Internasional Kemendag, Olvy Andrianita, mengatakan bahwa skema pasar global sudah berubah total.
“Kita tak lagi bicara pasar tunggal. Kini kita hidup dalam sistem rantai pasok global (global supply chain) yang kompleks,” tegasnya.
Proteksionisme AS Jadi Ancaman Nyata
Salah satu isu utama adalah proteksionisme ekonomi dari Amerika Serikat, terutama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor sebesar 32% untuk Indonesia dan puluhan negara lain pada 2 April 2025.
Tarif itu ditunda implementasinya hingga 8 Juli 2025, memberi waktu negosiasi. Namun, belum ada kejelasan posisi Indonesia menjelang tenggat waktu tersebut.
“Kondisi ini sangat rumit. Ini tantangan besar bagi perdagangan dan keberlanjutan. Bahkan negara-negara Afrika pun mengalami tekanan yang lebih berat,” jelas Olvy.
Isu Keberlanjutan Perlu Direspons Realistis
Olvy juga menyoroti bahwa isu sustainability dalam perdagangan perlu ditangani dengan keseimbangan antara keberlanjutan lingkungan dan keuntungan bisnis.
