Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp HeadlineNesia.Com
+Gabung
JAKARTA – Saat harga emas global terkoreksi tajam akibat tekanan geopolitik dan kebijakan suku bunga ketat dari The Fed, investor berbondong-bondong mengalihkan portofolionya ke Bitcoin (BTC). Aset digital ini mulai dianggap sebagai alternatif lindung nilai yang lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Dalam sepekan terakhir, harga emas dunia turun dari US$3.420 ke US$3.335 per ons atau melemah sekitar 2,5%. Di sisi lain, Bitcoin tetap stabil di kisaran US$104.000, menunjukkan resiliensi yang menarik perhatian investor.
Menurut Antony Kusuma, VP Indodax, ini menandai perubahan besar dalam pola pikir investor global, di mana Bitcoin tak lagi dianggap semata instrumen spekulatif, melainkan bagian dari strategi aset jangka panjang.
“Ketahanan Bitcoin di tengah tekanan geopolitik dan moneter membuktikan bahwa dunia kini melihatnya sebagai poros baru dalam sistem keuangan digital global,” jelas Antony.
The Fed Ketat, Bitcoin Jadi Aset Netral
Dengan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi di level 4,25–4,50% dan menyatakan pemangkasan suku bunga akan dilakukan bertahap hingga 2027, tekanan terhadap aset tradisional seperti emas meningkat.
“Investor kini mencari instrumen netral secara politik, terbuka, dan tidak bisa dimanipulasi. Bitcoin menjawab semua itu,” tambahnya.
Bitcoin Tak Terkait Bank Sentral – Pasokannya Terbatas
Salah satu kekuatan utama Bitcoin adalah desentralisasi total dan pasokan tetap sebesar 21 juta koin. Hal ini membuatnya tahan terhadap inflasi yang disebabkan oleh pencetakan uang fiat.
